[Review] Before We Vanish, Ketika Manusia Kehilangan Konsep
Live Action - Wednesday, November 1, 2017 | 8:16 pm

Catatan: Artikel ini bersifat subjektif dan bersih dari spoiler

© 2017 “Before We Vanish” Film Partners

Halo, pada artikel ulasan kali ini, kami akan membahas salah satu film yang akan tayang pada acara Japanese Film Festival 2017 di CGV Grand Indonesia yaitu Before We Vanish atau yang berjudul Sanpo Suru Shinryakusha dalam bahasa Jepang.

Before We Vanish mengisahkan tiga alien yang datang menginvasi bumi melalui perantara tubuh manusia. Salah satunya adalah Shinji Kase (Ryuhei Matsuda) yaitu suami dari Narumi Kase (Masami Nagasawa),  yang sikap dan perangainya berubah sejak kembali dari pekerjaannya. Tidak jauh dari rumah mereka, terjadi pembunuhan sadis yang dilakukan oleh seorang pelajar SMP bernama Akira Tachibana (Yuri Tsunematsu). Berita pembunuhan ini sampai ke telinga seorang jurnalis yang bernama Sakurai (Hiroki Hasegawa). Saat meliput pembunuhan oleh Akira Tachibana, Sakurai bertemu dengan pemuda aneh yang mengaku sebagai alien. Ia menamai dirinya Amano (Mahiro Takasugi) dan meminta bantuan Sakurai untuk menemaninya mencari alien-alien lainnya. Isu Alien bertebaran, menghisap konsep-konsep yang berada di pikiran manusia. Pertanyaan-pertanyaan Filosofis keluar dari mulut para alien. Pertanyaan yang ditujukan kepada manusia, mulai dari ‘konsep diri’, ‘konsep keluarga’, hingga ‘konsep cinta’. Kehadiran alien ini bertujuan untuk menghancurkan manusia dan mereka yang lemah menjadi sasarannya. Apakah mereka berhasil menjalankan rencana tersebut?

Film ini disutradarai oleh Kiyoshi Kurosawa. Sutradara yang sudah meraih 22 penghargaan di berbagai festival dunia termasuk Cannes Film Festival untuk film Kairo (2001), Jury Prize untuk Tokyo Sonata (2008) dan Best Director untuk Kishibe no Tabi (2015).

Sebagai film yang membawa tema invasi alien, film ini menyuguhkan hal berbeda dari film-film invasi lainnya. Jika banyak film bertema sama yang menyuguhkan peperangan atau serangan bergerombol, berbeda dengan film ini. Film ini lebih fokus bermain pada genrenya sendiri yaitu fiksi ilmiah di mana para alien mendatangi satu persatu manusia mengambil konsepnya untuk mempelajari mengenai dunia manusia hingga akhirnya bisa menginvasi manusia.

Walaupun premis dari film ini menarik, namun sepanjang jalannya film terdapat beberapa hal yang janggal, seperti adanya karakter yang dihadirkan pada cerita namun kurang pengembangan karakter, dan banyaknya adegan yang dirasa tidak begitu penting sehingga cerita menjadi kurang padat. Musik yang mengiringi sepanjang film juga kurang bisa memberikan suasana yang diinginkan.

Namun, selain hal-hal diatas, film ini menarik untuk ditonton terutama oleh para pecinta genre fiksi ilmiah karena konsep yang disuguhkan menarik. Selain itu film ini juga menghadirkan beberapa aktor muda Jepang yang menampilkan akting yang bagus.

Bagi anda yang sedang mencari film yang memiliki premis unik untuk ditonton, maka film ini bisa menjadi pilihan dalam perhelatan Japanese Film Festival 2017. Film ini juga dinominasikan dalam penghargaan Un Certain Regard dalam Cannes Film Festival 2017, dinominasikan dalam penghargaan Narcisse untuk film terbaik dalam Neuchatel International Fantastic Film Festival 2017 dan dinominasikan sebagai film terbaik dalam penghargaan Stiges – Catalonian international Film Festival 2017. 

Tentang Japanese Film Festival 2017

Japanese Film Festival (JFF) adalah festival film terbesar yang memperkenalkan film-film Jepang kepada masyarakat dunia, khususnya di Asia Tenggara dan Australia. JFF berusaha untuk menghadirkan Jepang secara utuh dan memberikan pemahaman tentang Jepang secara lebih mendalam melalui film.

Pada tahun 2015, JFF diselenggarakan di Jakarta oleh Agency of Cultural Affairs of Japan dengan dukungan Kedutaan Besar Jepang, The Japan Foundation, dan Japan Image Council. Sejak tahun 2016, The Japan Foundation, Jakarta mulai menyelenggarakan sendiri JFF sebagai sebuah festival tahunan. JFF 2016 berlangsung di Jakarta dengan menayangkan sebanyak 14 film Jepang pilihan. Festival tersebut berhasil menyedot perhatian sebanyak 4500 penonton dalam rentang waktu tiga hari.

Menyambut kesuksesan JFF 2016 dan antusiasme masyarakat penikmat film Jepang di Indonesia yang semakin tinggi, tahun ini JFF diselenggarakan di empat kota, yaitu Denpasar, Jakarta, Makassar, dan Yogyakarta. Di Denpasar, JFF 2017 bergabung dengan BALINALE – Bali International Film Festival. Sementara itu, kerja sama dengan Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF) masih akan berlanjut untuk penayangan film-film Jepang di Yogyakarta pada tahun ini.

Seluruh Informasi terkini mengenai Japanese Film Festival 2017 dapat diakses di:

Facebook Fanpage : Japanese Film Festival – Indonesia
Website : http://id.japanesefilmfest.org/
E-mail : indonesiajff@gmail.com

Japanese Film Festival 2017
The Japan Foundation, Jakarta
Gd. Summitmas I Lt.2-3
Jl. Jend. Sudirman Kav. 61-62, Jakarta

Contact us:
Tel. 021-5201266
indonesiajff@gmail.com

Artikel ini dibuat oleh Ponyonyon


Share this:

CHECK THIS OUT!!
Live Action - Saturday, November 18, 2017 | 7:35 pm
Live Action - Thursday, November 16, 2017 | 8:49 pm
Live Action - Sunday, November 12, 2017 | 8:58 pm
Live Action - Friday, November 10, 2017 | 1:23 pm
Top