[Review] Princess Mononoke, Mendamaikan Konflik Antara Manusia dan Dewa
Live Action - Tuesday, November 7, 2017 | 6:41 pm

Catatan: Artikel ini bersifat subjektif dan bersih dari spoiler

© 1997 Studio Ghibli・ND

Halo semuanya! Kembali lagi pada artikel ulasan kami yang akan membahas salah satu film yang ditampilkan pada acara Japanese Film Festival 2017 di CGV Grand Indonesia yaitu Princess Mononoke.

Princess Mononoke menceritakan tentang perjalanan seorang pangeran dari sebuah suku kecil yang bernama Ashitaka (disuarakan oleh Youji Matsuda) ke barat untuk mencari pengobatan untuk kutukan yang ia dapatkan setelah ia bertarung dengan seekor dewa babi hutan yang ingin menyerang desanya. Dalam perjalanannya, ia menemukan sebuah pabrik besi yang berada di tengah konflik antara mereka dengan para binatang di hutan. Dia bertemu dengan Lady Eboshi (disuarakan oleh Yuko Tanaka), pemilik dari pabrik besi, yang sedang berperang melawan San (Yuriko Ishida), seorang wanita misterius yang dibesarkan oleh dewa serigala dan mempunyai julukan Princess Mononoke, dan para binatang. Ashitaka melihat keduanya dapat hidup bersama, dan mencoba untuk menghentikan peperangan.


Film ini merupakan salah satu karya agung dari Hayao Miyazaki, salah satu penemu dari Studio Ghibli, yang telah memenangkan beberapa penghargaan, diantaranya yaitu Awards Circuit Community Awards dalam kategori Best Foreign Language Film dan Best Animated Feature. Selain itu, juga telah memenangkan Award of the Japanese Academy dalam kategori Best Film. Selain itu, film ini juga telah memenangkan 11 penghargaan lainnya. Film ini juga telah dinominasikan dalam Las Vegas Film Critics Society Awards sebagai Best Animated Film, dan telah mendapatkan 4 nominasi lainnya.

Sebagai film yang bergenre fantasi, film ini melakukan hal yang sangat baik dalam menunjukkan faktor-faktor fantasi yang menarik bagi penonton. Walaupun mempunyai genre fantasi, film ini tetap mengaitkan ceritanya dengan sejarah di Jepang. Selain itu, juga mengangkat kepercayaan-kepercayaan terhadap dewa-dewa alam. Pembawaan cerita oleh film ini sangat bagus, dimana kami sangat terbenam dalam ceritanya pada saat menonton. Pacing ceritanya pun lumayan baik, dimana eksposisi yang ditunjukkan tidak memperlambat cerita, tetapi masih bisa dipahami. Pembangunan karakter cukup baik, dimana kita bisa melihat karakter utamanya berkembang seiring cerita berjalan, namun ada beberapa karakter pembantu yang kurang dapat diingat karena kurangnya dampak yang mereka berikan kepada cerita tetapi mendapat peran yang cukup penting di akhir.

© 1997 Studio Ghibli・ND

Soundtrack untuk film ini cukup baik. Aransemen musik yang disusun oleh Joe Hisaishi sangat membantu mengatur mood dan atmosfir film ini. Lagu-lagu yang digunakan sangat membuat kami merasa terbenam dalam cerita, dan benar-benar dapat mengendalikan perasaan kita saat menonton.

Voice acting untuk film ini sangat baik. Youji Matsuda memperankan Ashitaka dengan sangat baik, membuatnya terdengar seperti seorang lelaki yang tangguh dan berani. Yuriko Ishida juga memerankan San dengan sangat baik, benar-benar memperlihatkannya sebagai wanita tangguh, tanpa membuat kita lupa kalau dia pun masih seorang wanita biasa. Secara keseluruhan, deretan seiyuu yang terpilih untuk film ini melakukan peran mereka dengan sangat baik.

Gambar dan animasi dalam film ini sangat bagus. Bisa terlihat sepanjang film bahwa animasi setiap benda yang berada pada layar sangatlah halus. Pada setiap adegan yang memperlihatkan alam, selalu tergambar dengan sangat baik. Sungguh sebuah karya agung dari Studio Ghibli.

Kekurangan dari film ini menurut kami hanyalah sedikit. Pertama yaitu pada pembangungan karakter yang sudah kami ulas sebelumnya, dimana karakter pembantu yang kurang berdampak tiba-tiba mendapat peran yang cukup penting disaat kita sudah lupa siapa dia. Selain itu, kurangnya dampak yang kami rasakan di akhir film ini. Rasanya, masih ada beberapa hal yang masih bisa dijelaskan.

Tetapi, secara keseluruhan, kami sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton. Film ini sangat menghibur dan mempunyai kualitas yang sangat tinggi. Cerita yang dibawakan sangat menarik dan mereka menjelaskannya dengan sempurna. Animasi yang ditunjukkan pun sungguh luar biasa.

Tentang Japanese Film Festival 2017

Japanese Film Festival (JFF) adalah festival film terbesar yang memperkenalkan film-film Jepang kepada masyarakat dunia, khususnya di Asia Tenggara dan Australia. JFF berusaha untuk menghadirkan Jepang secara utuh dan memberikan pemahaman tentang Jepang secara lebih mendalam melalui film.

Pada tahun 2015, JFF diselenggarakan di Jakarta oleh Agency of Cultural Affairs of Japan dengan dukungan Kedutaan Besar Jepang, The Japan Foundation, dan Japan Image Council. Sejak tahun 2016, The Japan Foundation, Jakarta mulai menyelenggarakan sendiri JFF sebagai sebuah festival tahunan. JFF 2016 berlangsung di Jakarta dengan menayangkan sebanyak 14 film Jepang pilihan. Festival tersebut berhasil menyedot perhatian sebanyak 4500 penonton dalam rentang waktu tiga hari.

Menyambut kesuksesan JFF 2016 dan antusiasme masyarakat penikmat film Jepang di Indonesia yang semakin tinggi, tahun ini JFF diselenggarakan di empat kota, yaitu Denpasar, Jakarta, Makassar, dan Yogyakarta. Di Denpasar, JFF 2017 bergabung dengan BALINALE – Bali International Film Festival. Sementara itu, kerja sama dengan Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF) masih akan berlanjut untuk penayangan film-film Jepang di Yogyakarta pada tahun ini.

Seluruh Informasi terkini mengenai Japanese Film Festival 2017 dapat diakses di:

Facebook Fanpage : Japanese Film Festival – Indonesia
Website : http://id.japanesefilmfest.org/
E-mail : indonesiajff@gmail.com

Japanese Film Festival 2017
The Japan Foundation, Jakarta
Gd. Summitmas I Lt.2-3
Jl. Jend. Sudirman Kav. 61-62, Jakarta

Contact us:
Tel. 021-5201266
indonesiajff@gmail.com

Artikel ini dibuat oleh NamYa


Share this:

CHECK THIS OUT!!
Live Action - Saturday, November 18, 2017 | 7:35 pm
Live Action - Thursday, November 16, 2017 | 8:49 pm
Live Action - Sunday, November 12, 2017 | 8:58 pm
Live Action - Friday, November 10, 2017 | 1:23 pm
Top