[Review] A Story of Yonosuke: Kisah Kehidupan yang Menceriakan Hidup Orang Lain
Live Action - Thursday, November 16, 2017 | 8:49 pm

Catatan: Artikel ini bersifat subjektif dan bersih dari spoiler

© 2013 “A Story of Yonosuke” Film Partners

Hai minna! Kali ini kita akan mengulas salah satu film yang tayang pada JFF atau Jakarta Film Festival Jakarta 2017 di CGV Grand Indonesia, tanggal 2-7 November lalu, yang sekaligus menjadi film pembuka JFF 2017 ini yaitu A Story of Yonosuke atau yang dikenal dengan judul Yokomichi Yonosuke saat pertama kali tayang di Jepang tahun 2013 silam.

Sebelumnya, yuk kita simak dulu sinopsis A Story of Yonosuke yang dikutip dari situs resmi Japanese Film Festival ini:
Kisah kehidupan Yonosuke Yokomichi, yang meninggalkan Nagasaki untuk berkuliah di Tokyo di akhir tahun ’80-an saat Jepang mengalami awal kesuksesan ekonomi. Meskipun naif dan kurang percaya diri ia memiliki bakat untuk bertemu orang-orang yang tepat dan menarik peluang. Secara perlahan ia pun membangun dirinya. Yonosuke mulai menikmati hubungan cinta dengan bekas teman sekelas, berpindah-pindah hingga 20 tahun kemudian hinggap di pelukan wanita panggilan kelas atas, sebelum akhirnya menemukan fakta mengejutkan tentang mantan kekasihnya.

Film ini menceritakan tentang tokoh utamanya, Yonosuke Yokomichi (diperankan oleh Kengo Kora), dengan kehidupan merantaunya dari Nagasaki ke Tokyo menjadi seorang mahasiswa, serta mempengaruhi hidup orang-orang yang ia temui. Film yang disutradarai oleh Shuichi Okita yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Shuichi Yoshida ini juga telah mendapatkan berbagai penghargaan film, seperti Blue Ribbon Award 2014 untuk kategori Best Picture dan Best Actor (Kengo Kora), serta Mainichi Film Award 2014 untuk kategori Best Supporting Actress (Yuriko Yoshitaka) dan Best Sound Recording.

© 2013 “A Story of Yonosuke” Film Partners

Karakter
Pada film ini, ada diperkenalkan beberapa tokoh yang kehidupannya mempengaruhi serta dipengaruhi oleh karakter utamanya Yonosuke dengan karakteristik serta latar belakang yang berbeda-beda. Mulai dari Ippei Kuramochi (Sosuke Ikematsu) dan Yui Akutsu (Aki Asakura) 2 teman pertamanya di universitas, keluarga dan teman-temannya di Nagasaki, wanita “dewasa” kenalannya bernama Chiharu (Ayumi Ito), Kato (Go Ayano) yang merupakan teman sekelas yang Yonosuke dekati secara tiba-tiba, hingga gadis kaya Shoko Yosano (Yuriko Yoshitaka). Setiap tokoh memiliki karakteristik unik mereka masing-masing dan dikembangkan secara bertahap dalam cerita film ini.

© 2013 “A Story of Yonosuke” Film Partners

Cerita
Ceritanya ditampilkan secara bertahap-tahap, setiap tahap awalnya membahas tentang hubungan karakter tertentu dengan Yonosuke, kemudian melompat atau timeskip ke kehidupan karakter tersebut sekitar 16 tahun ke depan. Karena perubahan urutan waktu yang mendadak penonton bisa kebingungan tentang apa yang terjadi. Namun seiring berjalannya cerita, pola tersebut bisa terlihat. Meski terjadi lompatan pada ceritanya, bagian utama cerita (masa Yonosuke sedang kuliah) tetap bersambung dan terus membangun hubungan antar tokoh secara perlahan sedangkan bagian timeskip lebih membangun ke arah plot twist yang muncul di bagian akhir film.

Meski durasi film yang hampir mencapai 3 jam, dalam waktu tersebut digunakan untuk membangun alur cerita beserta para tokoh dengan cukup baik. Diselingi oleh aspek komedi yang menggelikan, drama yang menyentuh, serta pesan moral yang cukup bermanfaat yang ditunjukkan melalui Yonosuke dan tokoh-tokoh lainnya. Sayangnya, di adegan terakhir film ini bisa saja membuat penonton bertanya-tanya dan penutupnya terkesan tiba-tiba.

© 2013 “A Story of Yonosuke” Film Partners

Tampilan Audio dan Visual
Sesuai dari film yang mendapatkan penghargaan di bidang rekaman suara dan gambarnya, dari segi tampilan film A Story of Yonosuke ini sangatlah memukau. Dari suasana serta latar yang dipakai cukup mencerminkan keadaan Jepang era 80-an dan Jepang era modern, serta perbedaan mulai dari bangunan, kendaraan, model pakaian, dan sebagainya. Musik dan suara latar yang dipilih di bagian utama film juga mampu menangkap suasana 30 tahun lalu.

© 2013 “A Story of Yonosuke” Film Partners

Secara keseluruhan, film A Story of Yonosuke ini sangat layak untuk ditonton terutama bagi remaja usia 17 tahun ke atas. Meski banyaknya pelompatan urutan waktu dan penutup yang agak menggantung bagi sebagian orang, film ini memiliki keunggulan yang beragam mulai dari akting, karakteristik tokoh, latar, adegan komedi, unsur budaya, relasi antartokoh yang ditampilkan hingga unsur inspiratif seperti persahabatan dan kasih kekeluargaan yang bermanfaat bagi kaum remaja. Bahkan dengan durasi yang bisa dibilang cukup panjang film ini memiliki daya tarik yang membuat penonton tidak sadar sudah hampir 3 jam menonton film ini dan bahkan ingin adegan tambahan setelah credit berputar diiringi oleh lagu berjudul Ima wo Ikite yang dibawakan Asian Kung-Fu Generation.

© 2013 “A Story of Yonosuke” Film Partners

Bagi kalian yang tertarik dengan budaya dan film Jepang, komedi yang dilengkapi romansa serta suasana retro era 80-an, film ini sangat kami rekomendasikan untuk ditonton.

Tentang Japanese Film Festival 2017

Japanese Film Festival (JFF) adalah festival film terbesar yang memperkenalkan film-film Jepang kepada masyarakat dunia, khususnya di Asia Tenggara dan Australia. JFF berusaha untuk menghadirkan Jepang secara utuh dan memberikan pemahaman tentang Jepang secara lebih mendalam melalui film.

Pada tahun 2015, JFF diselenggarakan di Jakarta oleh Agency of Cultural Affairs of Japan dengan dukungan Kedutaan Besar Jepang, The Japan Foundation, dan Japan Image Council. Sejak tahun 2016, The Japan Foundation, Jakarta mulai menyelenggarakan sendiri JFF sebagai sebuah festival tahunan. JFF 2016 berlangsung di Jakarta dengan menayangkan sebanyak 14 film Jepang pilihan. Festival tersebut berhasil menyedot perhatian sebanyak 4500 penonton dalam rentang waktu tiga hari.

Menyambut kesuksesan JFF 2016 dan antusiasme masyarakat penikmat film Jepang di Indonesia yang semakin tinggi, tahun ini JFF diselenggarakan di empat kota, yaitu Denpasar, Jakarta, Makassar, dan Yogyakarta. Di Denpasar, JFF 2017 bergabung dengan BALINALE – Bali International Film Festival. Sementara itu, kerja sama dengan Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF) masih akan berlanjut untuk penayangan film-film Jepang di Yogyakarta pada tahun ini.

Seluruh Informasi terkini mengenai Japanese Film Festival 2017 dapat diakses di:

Facebook Fanpage : Japanese Film Festival – Indonesia
Website : http://id.japanesefilmfest.org/
E-mail : indonesiajff@gmail.com

Japanese Film Festival 2017
The Japan Foundation, Jakarta
Gd. Summitmas I Lt.2-3
Jl. Jend. Sudirman Kav. 61-62, Jakarta

Contact us:
Tel. 021-5201266
indonesiajff@gmail.com

Artikel ini dibuat oleh Genshin


Share this:

CHECK THIS OUT!!
Top