[Review] Flavors of Youth, Membawa “Namamu” namun Kekurangan Rasa
Anime-Manga - Saturday, August 4, 2018 | 10:39 pm

Review ini bersifat subjektif dan terdapat sedikit spoiler

Salah satu film garapan CoMix Wave Studio kembali hadir untuk mencoba menghibur para penggemarnya. Setelah berhasil mengguncang industri film dunia melalui kesuksesan Kimi no Na wa., kali ini CoMix Wave mencoba menampilkan hal berbeda dari film terbarunya yaitu Flavors of Youth (Shikioriori). Jika karya-karya CoMix Wave sebelumnya merupakan hasil dari sutradara Makoto Shinkai, untuk film ini mereka bekerja sama dengan Haoliners Animation League selama proses pembuatan dengan CoMix Wave sebagai sutradara kepala. Satu hal lagi yang membuat film ini berbeda adalah film ini merupakan kumpulan dari tiga film pendek yang disutradarai oleh tiga sutradara berbeda.

Flavors of Youth menggunakan kesuksesan Kimi no Na wa sebagai bahan promosi mereka, setidaknya itu yang ditunjukkan oleh poster yang dikeluarkan oleh Netflix. Dengan bahan promosi seperti itu setidaknya ekspektasi yang ada cukup tinggi terhadap film ini walaupun yang harus diingat sebelum menonton adalah ketiga sutradara yang menangani film ini belum begitu berpengalaman dalam menyutradarai film animasi (kecuali Li Haoling yang sudah beberapa kali menyutradarai film animasi asal Tiongkok). Bisa dibilang film ini dibuat sebagai ajang untuk menampilkan kemampuan dari sutradara-sutradara baru.

Bagian pertama dari film ini berjudul The Rice Noodles (Hidamari no Choshoku) yang disutradarai oleh Xiaoxing Yi. Bercerita tentang seorang anak yang menyukai mi yang dijual di daerah tempat tinggalnya di Beijing, mi yang sering disantapnya bersama dengan sang nenek merupakan salah satu kenangan terindahnya. dan kegiatan memakan mi juga menjadi satu-satunya yang bisa menghubungkannya dengan orang yang dia sukai. Untuk sutradara yang baru menjalani debutnya dalam pembuatan film animasi, film ini memberikan kesan yang cukup baik, walaupun penggunaan monolog yang berlebihan membuat film ini menjadi terasa datar, terkesan seperti sedang mendengarkan orang yang sedang membaca novel.

Film kedua berjudul A Little Fashion Show (Chiisana Fashion Show) disutradarai oleh kepala 3DCG CoMix Wave yaitu Yoshitaka Takeuchi. Film ini bercerita tentang dua orang kakak beradik yang tinggal di Guangzhou. Mereka sudah ditinggal oleh orang tuanya dan si kakak yang membiayai kehidupan mereka berdua. Sang kakak bekerja sebagai model majalah busana wanita, sedangkan si adik sedang mengambil pendidikan perancangan busana. Dari ketiga film pendek, film ini bisa dibilang yang paling hambar. Masih sama seperti film pertama di mana terlalu banyak penggunaan monolog untuk menjelaskan keadaan ditambah lagi dengan cerita yang cukup klise di mana nantinya si kakak harus menghadapi rivalnya, lalu mulai dilewati oleh rivalnya.

Film ketiga berjudul Love in Shanghai (Shanghai Koi) oleh sutradara Li Haoling. Dari ketiga film, bisa dibilang film ketiga merupakan yang paling menarik untuk ditonton. Bercerita mengenai tiga orang sahabat yang tinggal di Shanghai di mana ternyata dua orang sahabat tersebut saling menyukai. Mereka saling berbicara dengan rekaman kaset dan mendengarkannya satu sama lain hingga suatu hari hubungan mereka terputus. Beberapa tahun kemudian, salah satu dari ketiga sahabat itu menemukan kaset lama yang meluruskan kesalahpahaman mereka selama ini. Berbeda dari dua film sebelumnya, film ini cukup memenuhi ekspektasi yang diharapkan dari film garapan CoMix Wave. Permainan kamera yang menarik, cerita yang tidak membosankan seperti memberikan rasa kepada Flavors of Youth yang kekurangan rasa pada dua film pertamanya.

Hal-hal lain dalam film ini seperti animasi dan lagu latar cukup memanjakan mata dan telinga sepanjang film. Satu hal lain yang menarik dalam film ini adalah latar tempat Tiongkok yang sulit jika diganti dengan daerah lain seperti Jepang (kecuali film kedua di mana cukup dimaklumi karena disutradarai oleh orang Jepang), hal ini membuktikan bahwa pengambilan latar Tiongkok bukanlah sekedar gimmick karena disutradarai oleh sutradara dari Tiongkok.

Ketiga film ini berfokus pada kenangan masa lalu anak muda dan masa depan yang ingin dicapai oleh anak muda. Secara keseluruhan tema yang ingin disampaikan oleh film ini dapat terkirim dengan baik, namun dengan promosi yang membawa nama Kimi no Na wa., film ini rasanya masih di bawah ekspektasi yang diharapkan. Film ini layak untuk ditonton, namun jangan berharap terlalu tinggi dari ketiga film pendek ini.

Film ini bisa mulai ditonton pada tanggal 4 Agustus 2018 di layanan streaming berbayar Netflix. Terdapat tiga pilihan bahasa untuk suara karakter yaitu Mandarin, Inggris dan Jepang dan saya menyarankan untuk menonton dengan pilihan suara Jepang, karena aneh mendengarkan bahasa Inggris diucapkan di Tiongkok dan pilihan suara Mandarin rasanya masih belum begitu cocok dengan animasinya. Jika bisa menonton filmnya melalui layanan streaming resmi, jangan membajak ya ~

Sumber gambar: IMDB

Artikel ini dibuat oleh ponyonyon


Share this:

CHECK THIS OUT!!
Top