Halo minna-san! Untuk topik kali ini, mimin akan membahas ulasan anime klasik berjudul Kino’s Journey (2003). Meskipun anime ini sudah lama dirilis, banyak orang masih mengingatnya karena keunikan cerita yang ditawarkan. Apakah kalian penasaran? Simak review selengkapnya di artikel ini, ya!

Kino berpose di samping Hermes dengan tampilan logo resmi animasi Kino’s Journey (sumber: scoopsanimationcorner.wordpress.com)

Kino’s Journey atau Kino no Tabi adalah sebuah seri novel ringan Jepang yang ditulis oleh Keiichi Sigsawa. Karya ini pertama kali diadaptasi menjadi anime pada tahun 2003 oleh studio A.C.G.T. Selain itu, anime ini juga memiliki versi remake-nya yang dirilis pada tahun 2017 oleh studio Lerche. Anime ini mengisahkan seorang pengembara bernama Kino bersama sepeda motornya yang dapat berbicara bernama Hermes.

Dalam Kino’s Journey, Kino sebagai tokoh utamanya melakukan perjalanan di dunia misterius dan mengunjungi berbagai negara yang unik serta berbeda satu sama lain. Ia memiliki prinsip untuk hanya menetap di suatu tempat selama tiga hari dan dua malam saja. Alasan ia memegang prinsip ini adalah agar ia dapat mengenal serta mempelajari segala sesuatunya tentang tempat tersebut, sekaligus menjaga jati dirinya sebagai pengembara untuk mengunjungi negeri-negeri baru.

Kino dan teman motornya Hermes (sumber: animeuknews.net)

Anime ini mengangkat tema-tema filosofis berupa utopia versus distopia yang menggambarkan skenario what if pada tatanan masyarakat. Salah satu contohnya adalah sebuah negeri di mana semua penduduk memiliki kemampuan untuk mendengar isi pikiran satu sama lain berkat eksperimen cairan tertentu. Awalnya, eksperimen ini bertujuan untuk kemajuan teknologi agar manusia dapat menyampaikan ide mereka secara langsung dan saling mengerti.

Suasana sunyi di The Land of Visible Pain, sebuah negeri yang tampak tidak berpenghuni akibat isolasi sosial para penduduknya (sumber: www.filmbooster.com)

Menyetujui tujuan awal eksperimen ini, semua penduduk akhirnya meminum cairan tersebut. Namun pada akhirnya, kemampuan ini justru membuat penduduknya saling menjauhi sampai mengisolasi diri karena takut menyakiti perasaan orang lain dengan pikiran jujur mereka. Mereka merasa terekspos dan akhirnya semua keluarga dan pasangan pun hancur. Kisah di negeri ini memberikan pesan ironis bahwa dalam hubungan sosial, sedikit “jarak” atau privasi justru diperlukan untuk menjaga keharmonisan.

Meskipun anime ini rilis dua dekade yang lalu, visual yang sederhananya berhasil memberikan kesan “dreamy” dan misterius yang pas dengan temanya. Pemilihan musiknya juga didasarkan pada ketegangan dan kemisteriusan latar yang memicu kewaspadaan penonton. 

Visual pemandangan alam dari salah satu negara yang dikunjungi Kino (sumber: animeuknews.net)

Menariknya, Kino’s Journey terdiri dari 13 episode yang bersifat standalone (cerita lepas). Artinya, setiap episode tersebut menceritakan negara yang berbeda sehingga kalian bisa menontonnya tanpa perlu terpaku pada urutan kronologi.

Kino dan hermes di atas rakit (sumber: moviesr.net)

Kino’s Journey menggambarkan bahwa ideologi atau aturan yang mungkin terlihat sempurna di atas kertas sering kali berakhir tragis saat dipraktikkan. Anime ini juga mengajak kita untuk melihat sisi gelap dan terang manusia. Kita tidak akan bisa melihat dunia secara utuh jika hanya terpaku pada zona normal, dan anime ini berhasil menggambarkannya dengan apik kepada kita.  Apakah kalian siap menjelajahi dunia bersama Kino dan Hermes? Anime ini wajib masuk ke daftar tontonan kalian selanjutnya! 

Sampai jumpa di ulasan berikutnya, mimin signing out!

Writer: Blues

Editor: Rivvs

Sumber: myanimelist.net, scoopsanimationcorner.wordpress.com, animeuknews.net, www.filmbooster.com, moviesr.net